Satu bulan penuh kita menjalani puasa di bulan ramadhan. Satu bulan penuh pula kita mendisiplinkan diri untuk beribadah pada Allah Azza Wa Jalla dengan berbagai macam bentuk ibadah. Mulai dari membaca Al-Qur'an, shalat tarawih, berbagi takjil, dan berbagai kesibukan lainnya semata mata dengan satu tujuan utama yaitu keberkahan di bulan ramadhan yang utuh dan ampunan dari Allah Azza Wa Jalla yang sempurna dan dinanti nanti kehadirannya oleh kita para pecinta ramadhan yang mana kesempatan itu hanya setahun sekali dan belum tentu kita berumur panjang dan mampu menjumpainya tahun depan.

         Rasa syukur sudah pasti menyelimuti hati kita, saat kita sadar bahwa tanpa izin dan ridha dari Allah Azza Wa Jalla, kita tak mungkin bisa melaksanakan berbagai kegiatan positif selama satu bulan ini dengan penuh kesungguhan dan berusaha mengejar kasih sayang dari Allah Azza Wa Jalla yang tak terbatas dan menyeluruh bagi seluruh penghuni semesta dari makhluk yang terkecil semisal semut hingga makhluk yang kompleks dan tercipta dengan sebaik baik bentuk yaitu kita, manusia sebagai lokus penampakan paling utuh dari nama-nama dan sifat-sifatnya. Sebagaimana yang Allah Azza Wa Jalla jelaskan dalam kitab suci Al-Qur'an surat At-Tiin ayat 4:

"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."

          Coba amati firman Allah Azza Wa Jalla barusan, benarkah kita layak mendapat gelar dan predikat sebaik-baik bentuk yang diciptakan Allah Azza Wa Jalla? Padahal selama ini kita juga tahu, kita sudah berlumur dosa dan mendzalimi diri kita, tidak hanya diri kita, bahkan keluarga kita, tetangga kita, kerabat kita, dan semua orang yang berinteraksi dengan kita tidak luput dari sikap aniaya kita. Tanpa kita sadari, lisan, sikap, dan seluruh aktifitas kita berdampak buruk bagi orang lain. Namun saat Allah membalas kita denga sikap buruk mereka terhadap kita, kita justru menyalahkan orang lain sepenuhnya dan lupa. Lupa bahwa setiap keburukan yang kita terima dari siapapun sebenarnya adalah murni salah kita, dan itu akibat dari dosa kita di masa lalu, atau sikap dzalim kita kepada sesama kita dan itu kita anggap remeh.

       Perbuatan yang berpotensi membawa kedzaliman amatlah banyak. Namun yang paling ringan diantaranya adalah ucapan. Ucapan merupakan hal yang ringan, remeh, dan kecil, hingga seringkali manusia lalai dan mengabaikan. Di momen idul fitri ini tidak harus kita mengucap maaf sekedar rutinitas tahunan, namun hendaknya kita tingkatkan, ada kesungguhan dalam hati kita untuk benar-benar berbenah. Terutama membenahi lisan kita agar setahun ke depan hidup kita lebih mulia dalam menyambut bulan ramadhan yang penuh berkah dan ampunan.

Kamis, 14 Juni 2018

Rizky Aji Purwantara

Related Artikel

Comments Artikel